Begitu pintu berhasil terbuka, pemandangan yang terlihat sangat
mencengangkan. Kamar Jiyong porak poranda. Barang-barang, buku, kertas,
hingga gitar berserakan. Sebuah cermin yang tadinya tergantung kini
berada di lantai dalam kondisi berkeping-keping tak beraturan dan
bernoda darah...
Kututupkan kedua tangan pada mulut yang ternganga tanpa suara. Tenggorokan rasanya tercekat tak mampu berkata-kata. Sudah lama sekali aku tak pernah melihat Jiyong mengamuk seperti ini. Kurasa Guru Kim yang berdiri di sampingku pun demikian. Kami sama-sama mematung. Jiyong yang tinjunya berlumuran darah hasil meremukkan kaca terduduk sambil menenggelamkan wajah diantara barang-barang yang berserakan. Wajahnya memerah seperti habis dididihkan disertai mata yang sembap. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Pertanyaan itu terus mendengung di telingaku. Akhirnya, tanpa mengeluarkan suara, aku dan Guru Kim perlahan menghampiri Jiyong.
"Ya~" sapaku pelan seraya berlutut di hadapannya. Sedangkan Guru Kim berusaha mengamankan pecahan kaca yang berserakan.


