Showing posts with label Kwon Jiyong. Show all posts
Showing posts with label Kwon Jiyong. Show all posts

June 25, 2014

Angel Spring - Part 17

Begitu pintu berhasil terbuka, pemandangan yang terlihat sangat mencengangkan. Kamar Jiyong porak poranda. Barang-barang, buku, kertas, hingga gitar berserakan. Sebuah cermin yang tadinya tergantung kini berada di lantai dalam kondisi berkeping-keping tak beraturan dan bernoda darah...

Kututupkan kedua tangan pada mulut yang ternganga tanpa suara. Tenggorokan rasanya tercekat tak mampu berkata-kata. Sudah lama sekali aku tak pernah melihat Jiyong mengamuk seperti ini. Kurasa Guru Kim yang berdiri di sampingku pun demikian. Kami sama-sama mematung. Jiyong yang tinjunya berlumuran darah hasil meremukkan kaca terduduk sambil menenggelamkan wajah diantara barang-barang yang berserakan. Wajahnya memerah seperti habis dididihkan disertai mata yang sembap. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Pertanyaan itu terus mendengung di telingaku. Akhirnya, tanpa mengeluarkan suara, aku dan Guru Kim perlahan menghampiri Jiyong.

"Ya~" sapaku pelan seraya berlutut di hadapannya. Sedangkan Guru Kim berusaha mengamankan pecahan kaca yang berserakan.

April 28, 2014

Angel Spring - Part 16

"Lalu bagaimana dengan perasaanmu pada Hwang Chansung?"

DEG~

"Oppa, kau membuatku gugup. Apa maksudmu sebenarnya?"

"Aku ingin kau menjawabnya dengan jujur..."

"Oppa..."

"Hmm...?"

"Chansung... dia adalah orang yang paling penting dalam hidupku..." jawabku terbata-bata.

"Hanya itu?"

"Sejak kecil Chansung selalu melindungiku. Bahkan... andai harus mengorbankan hidupnya sekalipun, mungkin akan dengan sangat bodoh dia lakukan. Terkadang Chansung memang berlebihan, tapi aku juga pasti akan melakukan hal yang sama..."

"Sedangkan Jiyong?"

"Jiyong...? Aku... tak tahu..." jawabku ragu.

"Apakah itu artinya kalau Jiyong bukan orang yang penting dalam hidupmu?"

"Tidak, bukan seperti itu! Aku hanya... tak yakin..."

"Tak yakin mengenai perasaanmu padanya? Atau tak yakin mengenai perasaannya padamu sehingga membuatmu bingung?" potong Youngbae Oppa.

April 18, 2014

Angel Spring - Part 15

"Hey, cepat kemari! Aku akan menunjukkan sesuatu padamu..." sambut Jiyong begitu melihatku di ambang pintu. Tumben sekali dia terlihat ceria. Benar-benar berbeda dari hari kemarin.

"Ceria sekali, apa kau salah minum obat? Perlukan kuantar menemui dokter? Sepertinya ada yang salah dengan obat yang kau minum..." ucapku datar.

"Hehe, coba kau lihat lirik yang baru kubuat...!" serunya sembari memperlihatkan selembar kertas.

"Kurasa ini seperti ungkapan cinta... Emm, entahlah bagiku terlihat seperti itu. Meski sama sekali tak ada kata cinta di dalamnya, tapi ini jelas sebuah perasaan yang mendalam"

"Jadi bagaimana menurutmu?"

"Hmm...O.K!"

"Hanya O.K saja?" Jiyong terdengar tak senang dengan komentarku.

"Apa aku harus melompat-lompat atau menari balet agar kau puas?"

"Ish... sudahlah!!" dia merebut kertas yang masih kupegang lalu meremas dan melemparnya sembarangan. Tanpa berkomentar aku langsung berjalan ke lantai dua. Kubiarkan Jiyong bergelut dengan kekesalan yang langsung terlihat dari raut wajahnya. Dia juga sepertinya tak menyadari saat aku memungut kembali kertas berisi lirik lagu yang dibuangnya itu.

March 2, 2014

Angel Spring - Part 13

"Channie..."

"hem..."

"kenapa bisa tiba-tiba menjemputku? dari mana kau tahu aku ada di sana?"

"memangnya apa yang aku tak tahu tentangmu? bahkan kebiasaanmu saat tidur pun aku tahu..."

"ooh, begitu ya?! hemm..."

* * * *

ting...ting... ~ tuing...tuing...

"yeoboseo..." sapaku tanpa melihat siapa yang menelepon.

"masih tidur?"

Ah, siapa ini? segera kuamati baik-baik nama yang tertera di layar.

"Oh, Kwon Jiyong... he, baru saja akan bangun" jawabku bohong. Padahal aku benar-benar masih di alam mimpi saat ponsel berbunyi, tadi. "Bagaimana keadaanmu?"

"Jam 9 pagi ini sudah boleh pulang. Mau ke sini? Ah tidak, kau harus ke sini sekarang juga! Kuberi waktu 45 menit mulai dari sekarang! Aku menunggumu!!"

"Apa?"

February 24, 2014

Angel Spring - Part 12

Dengan penuh percaya diri Jiyong menghampiriku dan Youngbae Oppa. Aku yang seharusnya mengambil banyak gambar Jiyong hanya berhasil mendokumentasikan beberapa momen saja saking terhipnotis oleh penampilannya. Segera kukeluarkan jus tomat-nanas yang memang sudah kusiapkan. Jiyong pun langsung sumringah melihat apa yang ada di tanganku.

"Daebak... daebak... daebak...!!!" seru Youngbae Oppa sambil bertepuk tangan menyambut Jiyong. Kami terus berjalan ke barisan paling belakang agar Jiyong bisa beristirahat tanpa terganggu. Sedangkan penonton dan peserta lain sudah kembali terfokus ke area stage untuk melihat pertunjukkan berikutnya.

"Hyuung..." panggil Jiyong pada Youngbae Oppa yang berjalan di depannya. Aku sendiri masih di belakangnya sambil mengemasi handuk dan botol minuman.

BRUKK...

"Ya ampun, Kwon Jiyong!!!" seruku.

"YA! YA! Gwenchanha? Jiyongie... YA!" Youngbae Oppa segera menghampiri dan membalikkan tubuh Jiyong yang tersungkur lalu menepuk-nepuk pipinya. Jiyong tak sadarkan diri.

"Oppa, bagaimana ini? Jiyong pasti terlalu memaksakan diri saat tampil tadi" aku turut memegangi lengannya yang terkulai.

February 13, 2014

Angel Spring - Part 11

"Oppa, bisa aku bicara dengan Jiyong sebentar? Kuhubungi ponselnya tapi tak aktif..." pintaku to the point.

"Jiyong? Memangnya dia tak bersamamu? Aku tak bertemu dengannya sejak kemarin..." jawaban Youngbae Oppa membuat rasa khawatirku kembali ke titik puncak.

"Tidak, oppa... aku pun tak bertemu Jiyong sejak kemarin. Begitu juga Guru Kim..." jawabku pelan. Pikiranku liar kemana-mana. Dimana Jiyong? Kemana dia? Kenapa tak satupun dari kami bertemu Jiyong sejak kemarin? 

"Hey, Dain-ah... tenanglah! Jiyong pasti baik-baik saja. Dia juga tak mungkin melewatkan kompetisi ini. Kau ingat bagaimana semangatnya saat berlatih kan?" Youngbae Oppa berusaha menenangkanku.

"Hmm... baiklah, oppa. Terima kasih. Aku yakin dia pasti baik-baik saja..." ujarku sambil kemudian memutuskan sambungan telepon.

February 9, 2014

Angel Spring - Part 10

"Ini... hadiah ulang tahun dari eomma saat umurku 10 tahun. Satu-satunya benda yang membuatku merasa... pernah memiliki keluarga..." ucap Jiyong lirih.

Kugenggam tangannya yang sedang memegang kalung itu lalu berbisik, "Kau tak pernah kehilangan keluarga..." 

Reaksi Jiyong sama sekali tak terduga, dia menyingkirkan tanganku... dan tak berucap sepatah katapun. Did I wrong? Did I wrong? pertanyaan itu terus berputar-putar. Aneh, kecewa, dan sedikit sakit. Itulah yang kurasakan. Seperti sebuah penolakan...

"Ekhem... udaranya dingin, kau tak akan segera masuk, Hannie?" suara Chansung ibarat pecahan kaca yang tiba-tiba berjatuhan dalam keheningan.

"Chan... Chansung.... kau sudah pulang?" tanyaku sambil menggerak-gerakkan tangan tak jelas. Sedangkan Jiyong, kulihat segera memasukkan kalung itu ke dalam saku jaketnya.

"Hemm..." Chansung berjalan diantara aku dan Jiyong. 

February 2, 2014

Angel Spring - Part 9

Rumah tampak sepi, tak ada yang menyambut kedatanganku seperti biasa. Paman, jelas masih beraktivitas. Bibi... entahlah, mungkin sedang di kamarnya. Chansung... kemana dia?

Aku langsung menuju kamar dan berganti pakaian. Begitu selesai memakai kaos, tiba-tiba pintu kamar langsung terbuka. Chansung! Dia mengagetkan saja. Untunglah pakaianku sudah lengkap.

"Hannie... Hannie... Hannie..." Chansung langsung menyeretku duduk di tempat tidur.

"Ya! Aku tahu kau sedang bersemangat -walau tak tahu apa penyebabnya- Tapi, kau tidak perlu menyeretku seperti ini, OK!"

"Haha, maaf!" dia segera melepaskan lenganku dan menggaruk-garuk belakang kepalanya sambil cengar-cengir.

"Jadi, ada apa sebenarnya?" kulipatkan tangan di depan dada.

"Emm... begini, kau tahu kan kalau aku sedang berkonsentrasi untuk ujian dan kejuaraan taekwondo?"

"Hmm... lalu?"

"Terkadang, kita harus mengorbankan sesuatu ketika ingin meraih sesuatu yang lebih besar..."

January 31, 2014

Angel Spring - Part 8

Tok...tok...tok...

Kudengar ketukan di pintu kamar.

"Hannie..." suara Chansung mengikuti ketukan itu.

"Eoh..."

"Aku masuk yaa...!?" pintanya.

"Eoh, masuklah!"

Tanpa basa-basi Chansung langsung merebahkan diri di tempat tidur. Aku sendiri masih berkutat dengan komputer dan mengedit foto-foto.

"Aku lelah sekali... Hoooaamh"

"Ya! Tidurlah di kamarmu sendiri kalau lelah! Aku tak mau bertukar kamar denganmu!!" protesku tanpa melihatnya sama sekali.

"Andwe, aku akan terus disini sampai kau berhenti membuatku terlihat bodoh" jawab Chansung. Ucapannya membuatku terkejut...

January 3, 2014

Angel Spring - Part 7

Aku dan Chansung sedang melihat hasil foto yang baru saja kami buat ketika dikejutkan oleh kedatangan seseorang. Orang itu sepertinya melompati dinding pembatas di utara danau. Kami bertiga saling melepaskan pandangan, lalu Chansung segera menarikku ke belakang punggungnya. 

"What's up...!" sapa orang itu...

Kulihat Chansung hanya memandanginya. Tangan kanannya sudah terkepal dan kaki dalam posisi kuda-kuda. Sedangkan orang di hadapan kami masih tampak santai.

Aku menggenggam tangan Chansung untuk membuka kepalnya sekaligus membuatnya sedikit rileks. Tentu akan jadi cerita lain kalau mereka sampai berkelahi.

December 15, 2013

Angel Spring - Part 6


“Han Da-In, Kim Sonsaeng memanggilmu!” ujar Park Ye-Jin teman sekelasku yang baru saja kembali dari ruang guru.

“Aku? Ne, aku segera menemuinya. Gomawo Yejin-ah”.

Kim Sonsaeng atau Guru Kim adalah pria di awal 30-an. Ia berperawakan tinggi dan berbadan proporsional. Kulitnya seputih susu. Kaca mata besar berbentuk kotak menjadi salah satu ciri khasnya. Guru Kim selalu berpenampilan stylish dan menata rambutnya sesuai dengan gaya rambut paling up to date. Beliau juga dikenal sebagai pemilik toko alat musik yang menjadi langganan beberapa musisi ternama di Seoul. Banyak siswa yoeja yang menyukainya karena selain masih muda, wajahnya memang lumayan tampan.

December 2, 2013

Angel Spring - Part 5


"Kwon Jiyong, aku mohon hentikanlah! Tanganmu terluka...!"

Sekuat tenaga kutarik lengannya dan membuatnya berbalik. Jiyong segera memalingkan wajah. Kulihat ada lebam di bawah mata kirinya. Bahkan di sudut bibirnya ada luka berdarah yang sudah mengering. Dia tampak sangat kacau.

“Ya! Gwaenchana??” refleks aku hampir memegang wajahnya jika saja Jiyong tak menghindar.

“Sudah kubilang jangan mencampuri urusanku!!” teriaknya. Jiyong pun langsung pergi dengan setengah berlari. 

Ada apa? Apa dia berkelahi lagi? Aku hanya bisa memandangi punggung Jiyong yang semakin menjauh.

Sebenarnya sudah bukan hal baru jika Kwon Jiyong berkelahi. Tapi ada sebersit rasa khawatir yang tiba-tiba mengganggu pikiranku.

Eomma, kenapa aku merasa seperti ini?~

* * * * 

Angel Spring - Part 4


Aku dan Chansung turun dari mobil secara bersamaan. Kami segera berlarian menuju gerbang sekolah. Bukan karena terburu-buru ataupun terlambat, tapi hanya ingin berlomba siapa yang akan terlebih dulu menyentuh lambang SIHS di pintu gerbang. Sebuah perlombaan kekanak-kanakan yang sebenarnya sedikit konyol. Idenya kami dapat di sepanjang jalan menuju sekolah tadi. Sama sekali tak ada maksud atau tujuan apapun dari perlombaan ini, sekedar untuk bersenang-senang sebelum memulai aktivitas.

“Haha, sudah kubilang kau tak akan bisa mengalahanku” ujar Chansung bangga setelah memenangkan perlombaan menyentuh lambang itu.

“Huh, lain kali aku yang akan menang!” sungutku.

November 29, 2013

Angel Spring - Part 3


“Channie, boleh aku masuk…?” teriakku dari luar kamar Chansung.

“Pintunya tak terkunci!”

Mendengar seperti itu aku pun segera masuk. Kulihat Chansung sedang di meja belajar, berkutat dengan laptopnya.

“Selamat malam Tuan Hwang, aku membawakan dessert anda” ucapku meniru gaya pramu saji restoran sambil meletakkan puding yang kubawa di mejanya. Chansung yang melihat makanan favoritnya tersaji di meja langsung sumringah. Kutunjukkan senyum termanis sambil mengarahkan kedua telunjuk ke ujung bibirku. Chansung tertawa memperlihatkan deretan gigi depannya yang rapi dan mengacak-acak rambutku, kebiasaan sejak kecil yang tak pernah hilang sampai sekarang. Dia segera mengambil pudingnya dan menarik tanganku menuju balkon.

Kami duduk bersama menikmati puding yang kubuat. Tapi raut wajah Chansung masih datar, meskipun tadi dia sempat tertawa.

November 28, 2013

Angel Spring - Part 2

Tak kusangka namja itu akan begitu kasar memperlakukan wanita yang baru sekali dijumpainya. Sambil mengatur nafas, aku berusaha untuk tak tampak kaget ataupun takut.

“Maaf, bisakah kau lepaskan tanganmu, SUNBAE?!” kupelototi namja itu dan berusaha mendorong paksa tubuhnya untuk melepaskan diri. Tapi usahaku sama sekali tak berhasil karena tenaganya lebih besar. Aku sedikit terkejut karena namja itu sebenarnya bertubuh kurus kalau tidak bisa kukatakan kerempeng. 

“Kau akan menyesal sudah berbuat lancang padaku!” umpatnya sambil mendorong tubuhku dengan keras, membuatku jatuh terduduk.........

Si namja merenggut jasnya yang tergeletak di tanah lalu meninggalkanku. Kutarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata, bersyukur dia kini telah pergi. Tapi kemudian kurasakan tangan kiriku memegang sesuatu, ternyata sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk bintang. Mungkin milik namja itu yang tanpa sengaja terlepas saat aku mencoba mendorong tubuhnya atau saat dia mendorong tubuhku. Ketika kualihkan pandangan ke arah namja itu, dia sudah tak terlihat.

Menyebalkan sekali harus bertemu dengan orang sepertinya di hari pertama masuk sekolah. Benar-benar kontras dengan kesenangan yang kurasakan karena menemukan kolam belakang sekolah yang begitu eksotis.

Kurapikan seragam dan segera pergi. Kubatalkan niat untuk menikmati keelokan danau belakang sekolah. Suasana hatiku sudah berubah gara-gara bertemu dengan namja aneh itu.

* * * *